Posted in Flagyl on June 6, 2015

THE FORGOTTEN SENTENCES FRIENDS WITH BENEFITS – CHAPTER 3

POSSESSIVE HUSBAND CHAPTER 12

May 30, 2015

19930401.com Possessive Husband Cho Kyuhyun, FanRa Couple, Kai-Hee Couple, Kim Jongin, Kris Wu, Lee Donghae, Lee Na Ra, Sehun 642 Comments

kai-1_ copy

Author             : Bellecious0193

Poster              : Lily21Lee

Genre              : Romance, Married Life, Family

Rate                 : PG 17

Casts               :

Kim Jongin

Jo Eun Hee

Wu Yi Fan aka Kris Wu

Lee Na Ra

Cho Kyuhyun

Etc

Thank you towards the 5xx comments, you guys are rockin’ ^^

Hope y’every one of enjoy this chapter. Happy reading…..

 

“Don’t aye hang your happiness on me or in successi~ someone’ else. Because when I’m gone or in all probability when that someone left, you would procure nothing but pain.”

 

Kris’ House, Thorhill, Canada

Lee Ryu Jin setengah berlari memasuki kediaman keluarga Wu di Thornhill, Kanada. Kepala urusan rumah tangga di rumah adik iparnya itu memberikan informasi bahwa Na Ra dan Kris baru saja bertengkar hebat. Dia tidak akan peduli jika pertengkaran mereka hanya cek cok sepele khas pasangan muda. Tapi ketika adiknya -Lee Na Ra- sudah menyebut-nyebut perceraian maka dia tidak bisa tinggal diam. Dia langsung terbang dari Canberra ke Thornhill untuk menyelesaikan masalah ini. Pria itu mengabaikan tubuhnya yang kaku karena duduk selama berjam-press di pesawat, juga jet lag yang membuat instrument-organ di tubuhnya menjerit tak nyaman. Ada hal penting menyangkut kebahagiaan adiknya yang harus segera dia urus. Dan demi adiknya dia akan mengabaikan hal-hal remeh seperti rasa letih yang menderanya saat ini.

“Monsieur Lee.” Jones menyambut dengan sopan saat dilihatnya kakak ipar dari tuan muda mereka memasuki rumah dengan arsitektur khas baroque milik Kris Wu.

“Where’s Kris?” Tanya Ryu Jin terburu-buru. Dia memang memiliki kepribadian sangat berbeda dengan Na Ra. Tapi, mereka tetap saja memiliki pertalian darah yang kuat. Salah satu kesamaan mereka adalah mereka tidak suka berbasa-basi. Rahasia sukses keluarga dengan nama barat Evans itu.

“Young Master is steady his room, Sir. What can I cheat-“

“Nope.” Ryu Jin memotong cepat perkataan Jones dan segera menuju ke ruangan yang ditunjukkan pria setengah baya itu.

Sesampainya di depan kamar Kris, Ryu Jin mengetuk pintu dengan kasar. Hampir menghancurkan pintu bercat putih itu.

“Kris Wu, buka pintunya!” Teriaknya dengan keras. Tapi tak ada jawaban. Dengan tidak sabar Ryu Jin membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Dia mendapati ruangan luar biasa luas itu benar-benar hancur berantakan. Perabotan yang ada disana berserakan di lantai, ranjang yang biasanya rapi juga sudah tidak terbentuk. Ada bau alkohol yang menyengat, membuat Ryu Jin mengeryitkan dahinya. Dia tahu jika adik iparnya sangat menghindari mengkonsumsi alkohol secara berlebihan. Mungkin hari ini adalah pengecualian.

Kris tidur dengan posisi telungkup di sofa berwarna krem miliknya. Tak sepenuhnya tidur juga, mungkin. Ryu Jin menarik tangan kanan Kris hingga pria itu terjatuh ke karpet beludru di bawahnya. Dia menggeram tertahan, merasa terganggu karena sudah ada yang menariknya dengan semena-mena.

“Get away Jones! Get away from me.” Hardik Kris dengan suara seraknya.

“Wake up Kris Wu!” Kris mendongakkan wajahnya begitu mendapati suara dalam khas Ryu Jin memenuhi indera pendengarannya. Dia mengusap matanya yang berkunang-kunang dengan kasar.” Memangnya kau pikir dengan berdiam diri disini Na Ra akan kembali padamu? Dasar bodoh! Apa kau sudah menjadi natural fool?” Ryu Jin merendahkan suaranya, kali ini menyerupai bisikan. Tapi nada dingin dari pria itu justru menambah kengerian di balik wajah tampannya.

“Eoh..hyung? Kapan kau datang?” Tanya Kris, buru-buru menegakkan tubuhnya. Dia mengacak-ngacak rambut coklatnya yang sudah sangat kusut.

Ryu Jin mendecakkan lidahnya, menatap kesal pada Kris dan segera mendudukkan diri dengan nyaman disana.

“Aku tidak datang kemari untuk berbasa-basi. Kau ini pria atau bukan? Jika kau pria sejati seharusnya kau mengejar Na Ra ke Seoul dan bukannya hanya meratapi nasib. Ribuan botol wine juga tidak akan pernah membuat keajaiban cinta.”

“Na Ra yang ingin menceraikanku, hyung.” Kris mengutarakan isi hatinya, tidak mau repot-repot berpikir mengenai bagaimana Ryu Jin bisa mengetahui soal rencana perceraian yang terlontar dari bibir Na Ra tiga hari yang lalu.

“Lalu? Kau menerimanya begitu saja? Ya Tuhan..kalian ini kekanakkan sekali. Jika Na Ra serius ingin bercerai darimu bukankah seharusnya kau sudah menerima surat cerai kalian? Dia bahkan tidak melakukan apapun. Menghubungi pengacara keluarga kami saja tidak. Itu tidak lebih dari sekadar ancaman. Kau ini seperti tidak tahu adikku saja. Dia itu kan memang seperti nenek sihir. Ah tidak tidak…nenek sihir itu panggilan untuk ibu kami. Jadi, aku harus menyebutnya apa?” Ryu Jin melontarkan candaan yang sukses membuat Kris mengulas senyum tipis di wajahnya. Dia memang natural. Emosi menyelimutinya hingga dia bahkan tidak bisa berpikir dengan jernih.

“Ice Queen. Dia seorang Ice Queen.” Jawabanya dengan yakin, masih dipenuhi dengan kebingungan akan peristiwa yang menimpanya tiga hari belakangan. Betapa dia tidak bisa hidup dengan baik tanpa Lee Na Ra. Ini bahkan baru tiga hari, dan dia terlalu ngeri untuk membayangkan hidup tanpa Na Ra di banyak hari di masa depan. Tidak…dia tidak mau! Membayangkannya saja enggan.

“Ya..ya sesukamulah. Sekarang kau harus segera menyusulnya. Yah..kecuali jika kau mau melihat Na Ra kembali bersama Cho Kyuhyun. Kau tahulah seperti apa mer-”

“Shut up Ryu Jin hyung!” Kris mendesis marah, membuat Ryu Jin terbahak-bahak. Pria itu bahkan sampai memegangi perutnya karena kram. Adalah hal lucu baginya melihat seorang Kris Wu dengan form an ~ of sempurna mudah sekali marah hanya karena sebuah nama. Ryu Jin kelewat senang, karena setidaknya bitterness membuat Kris lebih manusiawi.

“Hyung…” Kali ini Kris menggelengkan kepalanya dengan cepat. Menepis rasa pusing yang menyerangnya saat itu.

“Sorry…sorry.” Ryu Jin mengusap cairan bening di sudut matanya. Dia terlalu banyak tertawa hingga hampir meneteskan look mata. ” Kau tahu? Kau konyol sekali. Pantas saja Na Ra mati-matian mencintaimu. Sudahlah..anggap saja aku sedang berbaik hati dengan ikut campur seperti ini. Lain kali aku tidak akan berbaik hati.” Ryu Jin segera berdiri, play upon words begitu dengan Kris.

“Hyung…” Kris menarik nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya dengan frustasi. “Apa benar Na Ra mencintaiku? Maksudku..dia bahkan tidak pernah mengatakan hal itu.”

“Kalau begitu kau harus membuatnya mengatakan kalimat yang ingin kau dengar. Kau tahu lah gengsinya setinggi langit. Sudah ya..aku harus segera ke New York. Ada nenek sihir yang sesungguhnya yang harus aku urus.” Ryu Jin melambai dan meninggalkan kediaman Kris saat itu juga. Dia tahu bahwa hanya butuh berbicara dengan Kris secara baik-baik. Dia tahu bahwa hanya butuh pembicaraan sederhana untuk membuat kebahagiaan adiknya kembali lagi. Dia tahu bahwa semuanya akan semudah ini. Bahwa Kris Wu tidak mau hidup di dunia dimana tidak ada Na Ra di dalamnya.

**

Jongin’ Mansion, Seoul

Eun Hee terus menerus menundukkan kepalanya saat sarapan di suatu pagi yang mendung di kediaman Jongin. Kram perut yang dialaminya beberapa hari lalu membuat Jongin lima kali lipat lebih protektif dari biasanya. Pria itu bahkan mengantarkan Eun Hee untuk bertemu orang tuanya, walaupun dia tahu bahwa Jongin tidak begitu nyaman saat bertemu dengan orang tuanya. Mungkin faktor pengalihan saham perusahaan masih menjadi tembok di antara mereka atau mungkin Jongin yang kelewat kaku.

Eun Hee menelan suapan terakhir almond croissant-nya. Mirae yang berdiri menemani sarapan dua pasangan itu hendak mengambilkan susu khusus ibu hamil untuk Eun Hee saat Jongin lebih dahulu berdiri. Pria itu dengan langkah lebarnya berjalan ke pantry, mengambil susu hangat yang sudah disiapkan dan meletakannya di depan Eun Hee.

“Minumlah.” Ujar Jongin datar. Mirae dan Eun Hee saling berpandangan, masih takjub dengan sikap spontan Jongin. Pria itu belum pernah bersikap seperti ini. Bersikap…semanis ini pada Eun Hee yang tengah hamil. “Minum Kim Eun Hee.” Ulang Jongin tegas.

Eun Hee buru-buru menyambar susu yang disodorkan Jongin tanpa berkomentar.

“Good girl.”

“Yoo Mirae-ssi kau harus mengajak Eun Hee jalan-jalan. Dia terlihat sangat bosan. Aku akan meminta John untuk mengantarkan kalian.”

“Tidak bisa.” Jawab Mirae cepat membuat Jongin menautkan alisnya. Jelas, dia tidak bisa dibantah. “Aku ada persidangan penting hari ini. Aku benar-benar tidak bisa sungguh.” Mirae membuat tanda V di depan wajahnya, seolah sedang bersumpah.

“Kalau begitu kau pergi dengan John saja.” Sergah Jongin tidak peduli.

Eun Hee sudah akan membuka mulutnya untuk menjawab Jongin saat Mirae menyela. ” Mr Kim, kau tidak takut istrimu jatuh cinta pada John karena terlalu sering bersama?”

“Mwo?”

“Ya kau tahulah. John itu tampan, sangat tampan. Dia bahkan bisa menjadi form atau artis Hollywood dan kau membiarkan istrimu terlalu banyak menghabiskan waktu dengannya..gadis waras manapun akan berpaling.” Mirae melancarkan aksinya, sementara Jongin menyandarkan punggungnya di kursi. Berpikir keras.

“Mirae-ya..apa yang kau katakan? Aku tidak mungkin menyukai John maksudku.. Auch!” Eun Hee memekik tertahan saat Mirae dengan sengaja menginjak kakinya. Isyarat agar Eun Hee diam saja.

“Are you okay?” Jongin segera menghampiri Eun Hee memeriksa setiap bagian tubuh istrinya.

“Aku..tidak..aku baik-baik saja Jong.” Eun Hee menjawab cepat mendapati tatapan Mirae yang seolah siap untuk mengulitinya.

“Kau kan bisa pergi dengannya Jongin-ah. Yah..anggap saja berkencan. Kalian belum pernah berkencan kan?” Mirae masih melancarkan aksinya. Gadis satu ini benar-benar tidak terduga.

“Kencan?” Jongin dan Eun Hee serempak bertanya. Mereka belum pernah memikirkan hal-hal remeh seperti kencan. Mereka terlalu sibuk mengatur hati, berperang dingin, saling benci, rindu hingga nyaris mati, bercinta hingga pagi, dan mereka terlalu sibuk saling mencintai.

“Ini 2015, berperilakulah seperti pasangan fresh lainnya.”

“I don’t hoax romance, any boyfriend things. I don’t carry into practice them.”

“Sesukamu lah, seperti kau pernah mendengarkanku saja.” Mirae melepas celemeknya, melemparnya asal di salah satu kursi di meja makan disana. Sementara itu Jongin menatap Eun Hee lekat, mencoba membaca pikiran gadis itu.

“Apa menurutmu kita memang harus berkencan?” Jongin bertanya retoris, lebih kepada dirinya sendiri. Sedangkan Mirae yang masih bisa mendengar suara Jongin tersenyum diam-diam. Setengah mati menahan diri untuk tidak melompat-lompat kegirangan. Dia harus segera menelfon Donghae dan mengajak kekasihnya itu berkencan. Dia sudah pada batas kedengkian maksimum karena setiap hari melihat kemesraan Jongin dan Eun Hee.

**

Donghae’ apartement, Seoul

Mirae begitu bersemangat saat memasuki kawasan apartemen mewah di Gangnam. Dia bahkan nyaris berlari saat baru saja keluar dari raise. Hatinya begitu bahagia karena akhirnya dia memiliki kesempatan ini. Kesempatan untuk bersama Donghae. Mereka sudah terlalu lama tidak menghabiskan waktu bersama. Donghae yang sibuk dengan pekerjaannya, dan Mirae yang sibuk dengan persidangan-persidangan serta segala urusan yang menyangkut urusan di residence Jongin.

Mirae memencet bel berkali-kali, nyaris mendobrak pintu saat Donghae tak kunjung membukkan pintu untuknya. Tapi baru saja keinginan itu muncul Donghae membuka pintu apartemennya. Wajah pria itu masih sama tampannya, masih mempesona dan masih tidak baik untuk kesehatan Mirae. Jantung Mirae bahkan sudah bekerja di luar batas natural saat ini. Alasannya sederhana, hanya karena Donghae berada begitu dekat dalam jangkauannya dan seluruh means di tubuhnya akan bereaksi di luar batas vertical. Dia merasa semakin jatuh cinta saja pada Lee Donghae.

Kecupan hangat di dahi Mirae menyadarkannya dari keterpesonaan. Keterpesonaan yang bahkan sama sekali tidak luntur sekalipun mereka sudah bersama selama enam tahun.

“Kau mau tetap berdiri saja disana?” Kekeh Donghae mendapati ekspresi Mirae yang tertegun, tangannya terulur mengusap puncak kepala Mirae.

“Oppa kau bertambah pendek ya?” Terkutuklah mulut Yoo Mirae. Dia benar-benar tidak bisa mengontrol bicaranya jika sudah berdekatan dengan Donghae.

“Mwo?”

“Lihat sekarang aku sama tingginya denganmu!”

“Itu karena kau memakai heels.” Donghae mempoutkan bibirnya dan segera masuk ke dalam apartemennya dengan Mirae yang mengikuti di belakang. Gadis itu melepaskan heelsnya dan cepat-cepat mensejajarkan tinggi badan mereka lagi.

“Nah..lihat kan? Kita hampir sama tinggi. Jadi oppa, apa kau menyusut?”

“Yak! Yoo Mirae..” Donghae menggeram, tapi Mirae buru-buru memeluk pria itu. Dia menenggelamkan kepalanya di dada bidang Donghae, menghidu redolence aqua yang khas.

“Kau harus banyak minum susu oppa. Aku heran..kenapa Daeshi bisa begitu tinggi sedangkan kau hanya setinggi ini tsk.”

“Itu karena aku kakak yang baik. Jadi aku memberikan jatah tinggi badanku padanya. Lagi pula Mirae-ya, pertumbuhanku sudah berhenti jika kau tidak lupa.” Mirae hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan. Donghae menarik pinggang Mirae agar jarak mereka semakin dekat, menyentuhkan pipinya di pipi gadis itu. “Setidaknya aku tampan kan? Tidak kalah dengan Kim Jongin atau Cho Kyuhyun.”

“Yang pasti kau yang paling tua di antara mereka. Soal ketampanan? Bisa diperdebatkan. Jika kau lebih tinggi mungkin aku akan mempertimbangkannya.” Mirae terkekeh geli mendapati ekspresi kesal Donghae, gadis itu menyapukan bibirnya di atas bibir Donghae. Sejenak Donghae tertegun karena ciuman itu. Pria itu menyeringai, lalu menarik tengkuk Mirae dan menciumnya dalam. Ciuman itu berlangsung panas, rakus dan sarat akan kerinduan. Mereka semakin menggila saat lidah mereka saling bertemu dan membelit satu sama lain. Ciuman mereka selalu saja seperti ini, kian memabukkan dari waktu ke waktu. Donghae baru saja akan memperdalam ciuman mereka saat bel apartemennya ditekan berkali-kali, disusul gedoran di pintunya.

Mirae dan Donghae dengan enggan melepaskan ciuman mereka, masih dengan sebelah tangan di pinggang Mirae, Donghae menekan tombol interkom-nya. Dia memutar mata melihat bahwa adiknya sudah berdiri di depan pintu dengan raut muka kesal.

“Bukalah pintunya, sebelum Daeshi menghancurkan pintu.” Mirae terkekeh mendapati ekspresi kekanakan Donghae.

Pria itu segera membuka pintu apartemennya dengan kasar. Dia menatap Daeshi dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

“Oppa kenapa lama sekali?” Rutuk Daeshi dan segera menerobos masuk ke apartemen kakaknya.

“Ada Mirae eonnie? Oh God..sad apa aku mengganggu?”

“Sangat!” Desis Donghae kesal, Daeshi langsung memukul lengan kakaknya dengan kasar.

“Yak! Kau kan memang menganggu!”

“Aku kan tidak tahu jika ada Mirae eonnie. Tapi, oppa..” Daeshi menatap intens Donghae dan Mirae secara bergantian, terutama bibir dua sejoli itu. “Apa yang kalian lakukan sebelum aku datang?” Tanyanya penuh selidik, sekali lagi mengamati bibir Donghae dan Mirae yang membengkak karena ciuman mereka.

“Kami tidak melakukan apapun, sungguh!” Mirae menjawab cepat untuk menutupi kegugupannya, terlalu malu karena sudah tertangkap basah.

“Kami sedang berciuman tadi sebelum kau datang. Kau sangat menganggu tahu!” Donghae berujar cuek, membuat Mirae menundukkan wajahnya.

“Jika aku tidak datang kalian pasti sudah bercinta.”

“Aku tidak keberatan jika Mirae dengan sukarela mau melakukannya.”

“LEE DONGHAE!!” Daeshi dan Mirae berteriak secara bersamaan. Suara kedua gadis itu membuat Donghae menutup telinganya. Dia harus melindungi indera pendengarannya dari suara-suara melengking yang berpotensi menimbulkan polusi suara.

“Yak oppa! Jangan macam-macam dengan Mirae eonnie. Aku tidak akan mengizinkanmu menyentuhnya sebelum kalian resmi menikah.”

“Diam sajalah. Kau anak kecil tahu apa? Berpacaran saja belum pernah tsk!” Daeshi membuka mulutnya dan mengatupkannya lagi. Dia baru akan membantah, tapi semua suaranya tertahan di tenggorokan. Apa yang Donghae katakan sepenuhnya benar. “Dengar Lee Daeshi. Kau itu lumayan cantik, pintar juga mungkin, ya..walaupun sisi idiotmu lebih mendominasi tapi kau cukup lumayan. Cukup membanggakan sebagai adik seorang Lee Donghae.”

“Oppa, kenapa kau terdengar seperti sedang menghina adik kandungmu sendiri?” Mirae menyela, tidak setuju dengan ucapan Donghae.

“Aku memang sedang melakukannya.” Donghae berujar cuek. Dia menyandarkan tubuhnya di dinding apartemennya, menatap Daeshi dengan serius. “Aku serius soal kau lumayan Daeshi-ya. Jadi, cobalah untuk berkencan. Hubunganmu dengan Sehun tidak juga berkembang. Ya..walaupun dia juga menyukaimu. Tapi pria itu kelewat lambat. Kau bisa menjadi perawan tua jika terus menunggunya.” Sementara Donghae berbicara panjang lebar. Mirae mati-matian mempertahankan kesadarannya. Lee Donghae saat berbicara seserius ini, dengan tatapan mata yang berpotensi meluruhkan seluruh sel di tubuhnya benar-benar mematikan. Kenapa dia tidak pernah bisa berhenti terpesona pada kekasihnya?

Daeshi mendecakkan lidahnya mendengar penuturan Donghae. Sepenuhnya tidak percaya dengan perkataan pria itu soal perasaan Sehun padanya.

“Sehun tidak mungkin menyukaiku. Dia bahkan tidak melihat ke arahku selama bertahun-tahun. Dia membangun temboknya sendiri, seolah tidak ada seseorang yang cukup baik untuknya.”

“Tapi, dia juga tidak berkencan dengan siapapun kan Daeshi-ya?” Tanya Mirae dengan suara pelan dan terkesan berhati-hati.

“Dan hal itu tidak bisa membuatku menarik kesimpulan bahwa dia juga menyukaiku kan, eonnie?”

“Dia menyukaimu Lee Daeshi. Jika tidak kenapa dia mau menghabiskan Natal di Verona bersama kita?” Donghae memberikan informasi yang membuat seolah jantung Daeshi berhenti berdetak dalam beberapa mili sekon. Hanya beberapa mili sekon dan itu sudah hampir membuat Daeshi pingsan karena kelewat bahagia.

“Itu karena dia kebetulan bertugas disana saat Natal, oppa. Dia kan sudah mengatakannya.”

“Dan kau percaya?” Donghae bertanya retoris, sementara Daeshi menganggukkan kepalanya dengan mantap sebagai jawaban. ” Itu hanya alasannya saja bodoh. Aku ini juga pria. Aku tahu bagaimana dia menatapmu. Dia jelas-jelas menyukaimu dan diam-diam mengikutimu saat kau pergi ke Casa di Giulietta.”

“Mwo? Maldo andwae! Sehun tidak mungkin melakukan hal itu. Dia..dia-” Daeshi mendadak kehilangan kemampuan verbalnya. Dia kelewat bahagia akan kemungkinan bahwa Sehun juga menyukainya. Bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Bahwa dia mungkin saja masih memiliki kesempatan untuk bersama pria itu. Dan hanya karena kemungkinan-kemungkinan itu saja dia sudah begitu bahagia. Jika kemungkinan itu terwujud dia pasti sudah mati karena kelewat bahagia.

“Shi-ya…jika dia tidak juga menyatakan perasaannya padamu. Maka kau bisa memulainya lebih dulu. Kau harus mengatakan perasaanmu yang sejujurnya pada Sehun. Opportunity may fail to keep in a blink of an look on, but regret will last forever. I don’t omit you become that kind of woman.” Mirae menasehati, mengusap pelan lengan Daeshi. Adik kandung Lee Donghae itu terdiam selama beberapa menit, masih mencoba mencerna setiap informasi yang baru saja diterimanya. Dia memang begitu lambat soal cinta. Begitu tidak cepat tanggap jika sudah menyangkut Oh Sehun.

“Thanks eonnie, oppa!” Daeshi nyaris berteriak dengan suara medium soprannya beberapa detik kemudian. Hal itu membuat Donghae dan Mirae luar biasa terkejut. Gadis itu mencium pipi kedua orang tersayangnya dengan kilat sebelum berlari keluar dari apartemen milik Donghae.

“Yak! Kau mau kemana?” Teriak Donghae saat Daeshi sudah hampir keluar dari apartemennya.

“Memperjuangkan cintaku, apa lagi?”

Donghae dan Mirae saling pandang seraya tersenyum. Daeshi memang seharusnya seberani ini dari dulu.

**

Gangneung sandy shore, Gangneung-si Gangwon-do

5.32 pm

Angin musim half berhembus pelan. Aroma asin air laut memenuhi indera penciuman pria itu. Rencana awalnya adalah segera menyewa sebuah cottage atau hotel di dekat pantai di Gangneung. Tapi, pemandangan biru manner laut nampaknya jauh lebih menarik, sehingga Jongin memutuskan untuk menepikan mobilnya di sebuah pantai yang nampak sepi disana. Sejenak dia ingin sekali menertawakan dirinya sendiri karena dengan begitu mudah menuruti ide konyol Yoo Mirae. Sejak kapan Kim Jongin menuruti kemauan orang? Dia lah si pemberi perintah, si have charge of freak. Tapi, dia akan mengalah hari ini. Mungkin juga akan banyak mengalah di banyak hari di masa depan demi Eun Hee, istrinya. Ada pengharapan yang begitu besar saat Mirae mengatakan soal kencan. Seperti ada secercah kebahagiaan yang terpancar di kedua mata Eun Hee dengan ide itu. Dan dia tidak mau menyia-nyiakan kebahagiaan yang mungkin bisa diwujudkannya untuk Eun Hee. Kebahagiaan sederhana berbentuk kencan yang dia sendiri belum pernah menjalaninya. Tidak paham, mungkin?

Dia menolehkan kepalanya kesamping dan mendapati Eun Hee tengah tertidur dengan pulas. Wajah tidur gadis itu menambah kecantikan yang seolah semakin bertambah dari hari ke hari. Tangan Jongin terulur, merapikan surai panjang Eun Hee yang menjuntai. Sentuhan tangan Jongin membuat Eun Hee menggeliat pelan. Buru-buru pria itu menarik tangannya, sama sekali tidak bermaksud menganggu tidur nyenyak istrinya.

“What did you carry into effect to me, sweetheart?” Dia berbisik begitu pelan, memastikan hanya dia saja yang mendengar. Dia tidak perlu jawaban Eun Hee, play upon words juga dengan jawaban orang lain. Dia tidak mau repot-repot mencari jawaban kenapa dia bisa begitu jatuh cinta pada gadis yang tengah dipandanginya itu.

Pandangan Jongin beralih ke perut Eun Hee yang semakin membuncit. Selain perutnya yang bertambah besar, Eun Hee nampaknya sama sekali tidak berubah selama kehamilannya. Kedua pipi gadis itu masih saja tirus. Jongin bahkan tidak yakin jika berat badan istrinya bertambah. Hal itu benar-benar menganggunya. Dia takut pada kemungkinan bahwa Eun Hee tidak bahagia. Atau lebih parahnya gadis itu sama sekali tidak bahagia.

Pikiran-pikiran itu dengan segera berubah menjadi kecemasan yang kembali merongrongnya. Membuntutinya seolah seperti bayangan yang tidak mau diusir pergi. Jongin memandangi tangannya yang mulai bergetar dan dengan cepat mengambil dua slab benzodiasepines dari dalam saku kemejanya, menelannya dengan segera.

Pria itu menghembuskan napasnya kasar. Dia membuka pintu mobil dengan hati-hati, meminimalisir suara yang ditimbulkan olehnya.

Jongin berjalan dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya, masih menyembunyikan tangannya yang gemetar. Dia membiarkan angin laut berhembus menerpa wajahnya dan membuat rambutnya berantakan. Tak lama, begitu dia cukup dekat dengan bibir pantai, pria itu mendudukkan dirinya di pasir berwarna kuning keemasan. Lalu dalam hitungan detik dia tenggelam dalam dunianya sendiri, dalam dunia yang dia sendiripun tak memahaminya.

**

Eun Hee terbangun dan merasakan sengatan matahari menyengat kulitnya. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesuaikan diri dengan cahaya yang menusuk-nusuk retinanya. Dia memandang ke sekitar dan terkejut mendapati dirinya sudah ada di tepi pantai. Gadis itu baru akan beranjak untuk mencari Jongin saat dilihatnya sebuah notebook berwarna merah yang dilihatnya di ruang kerja Jongin tempo hari. Eun Hee meraih notebook itu dan segera merasa kindly dengan tulisan dalam bahasa Prancis yang sudah dia hapal betul artinya. Kedua sudut bibirnya tertarik, dan seketika pipinya merona merah. Dia tidak tahu jika Jongin bisa menulis kata-kata cinta yang begitu mengagumkan.

Tangan kurusnya terulur membuka satu by satu halaman yang ada disana. Dan dia menyesal kenapa sudah begitu terkesima saat membaca halaman pertama, karena di halaman-halaman berikutnya Jongin menuliskan apa-apa yang dialaminya secara jujur, merampas pasokan oksigennya dengan segera.

Jongin bukan penyair hebat sekelas Shakeaspeare atau penulis romantisme sekelas Hugo atau Sparks, tapi pria itu tidak perlu menjadi sehebat mereka. Karena bagi Eun Hee apa yang Jongin tuliskan disana sudah lebih indah dari karya romantisme terbaik sepanjang masa sekalipun. Dia tidak pernah tahu. Belum. Bahwa Jongin mencintainya begitu dalam selama delapan tahun yang teramat menyiksa. Dia jadi merasa rendah diri sekaligus tak tahu malu tentang bagaimana dia terlalu banyak menuntut pada suaminya itu. Dia terlalu mengharapkan hal-hal yang rumit, yang sebenarnya tidak pantas diterimanya. Tapi, Kim Jongin mewujudkannya, dengan sempurna dan tanpa cela. Pria itu membuatnya merasakan hal-hal yang dia juga tidak pernah bayangkan seumur hidupnya.

Eun Hee berkonsentrasi selama sejam penuh membaca catatan Jongin. Dia membacanya dengan seksama, mengulang beberapa kalimat agar tidak ada satu hurufpun yang terlewat. Tidak ada satu katapun yang luput dari pemahamannya.

Catatan itu tidak lebih dari dua ratus halaman. Dan di halaman terakhir Eun Hee benar-benar berpikir bahwa dia akan mati karena kelewat bahagia. Disana ada tulisan miring dengan huruf-huruf kurus khas Jongin.

“Saat kau membukanya, aku memastikan bahwa kau sudah menjadi istriku. Milikku. Aku selalu mengatakan pada diriku sendiri, bahwa jika aku tidak bisa mendapatkanmu secara baik-baik maka aku akan melakukan hal-hal buruk agar bisa mewujudkannya.

Aku bukan orang yang baik. Bukan juga orang yang suka berbelas kasih.

Sekarang kau tahu bagaimana perasaanku padamu. Aku tidak memintamu untuk memahaminya. Karena aku sendiri juga tidak paham tentang bagaimana aku bisa mencintaimu semati-matian ini.

Kim Eun Hee…aku selalu ingin melakukan semuanya dalam tahapan yang benar. Dalam tahapan yang seharusnya tentang bagaimana seorang pria baik-baik melamar gadis yang dicintainya.

Tapi sekali lagi, aku bukan pria baik-baik. Aku hanya pria yang mungkin menurut sebagian orang adalah pria jahat. Dan pria jahat ini sedang menawarkan hidupnya demi kebahagiaanmu. Jadi, bersediakah kau menghabiskan banyak waktu di masa depan denganku? Agar aku tidak tersiksa dan merana seorang diri karena terlalu mencintaimu.

Anggap saja aku sedang memohon padamu.

Jadi, maukah?”

Gadis itu menutup mulutnya, serta merta menghapus dengan kasar weather mata yang mengalir dari kedua sudut matanya. Dia kelewat bahagia, sampai-sampai berpikir bahwa dia tidak akan menyesal jika dia mati hari ini.

Eun Hee membuka pintu mobil dengan buru-buru, dan dia segera melihat pemandangan terindah menurut versinya. Kim Jongin dengan kemeja putih dan punggung lebarnya. Dia lupa kapan pria itu mengganti pakaiannya, seingatnya tadi pagi Jongin masih mengenakan kemeja berwarna biru tua atau..entahlah Eun Hee tidak mau ambil pusing.

Eun Hee berjalan dengan sedikit tergesa ke arah Jongin, memegangi perutnya yang sedikit kram karena dia berjalan kelewat cepat.

“Jong..” Panggilnya, saat jarak mereka sudah cukup dekat. Jongin menolehkan kepalanya, tersenyum saat melihat Eun Hee sudah berdiri di belakangnya.

Jongin tidak pernah lelah memuji kecantikan Eun Hee. Memuji betapa gadis itu bisa saja semakin cantik dari hari ke hari di matanya. Sinar matahari musim half menerpa tubuh gadis itu, membuatnya nampak berkilauan.

Jongin mengulurkan tangannya, masih dengan posisi duduknya. Eun Hee menerima uluran tangan itu, seperti biasa merasakan aliran listrik dalam volt kecil saat tangan mereka bersentuhan.

“Kenapa tidak membangunkanku? Apa yang kau lakukan disini dari tadi? Apa aku tidur sangat lama? Dan ngomong-ngomong.. Kau mengganti pakaianmu?” Eun Hee mencecar Jongin dengan banyak pertanyaan. Pria itu justru terkekeh, dan menempelkan pelipis mereka, sesekali menciuminya. Dia selalu suka melakukan kontak fisik dengan Eun Hee. Aroma forbidding orchid yang begitu familiar di indera penciumannya akan selalu menjadi grateful odor favoritnya.

“Easy sweetheart.”

“Jong, jawab pertanyaanku!” Eun Hee merajuk, membuat Jongin dengan tidak rela sedikit menjauhkan tubuhnya untuk memberi jarak di antara mereka.

“Kau tidur sangat nyenyak Mrs.Kim, mana mungkin aku tega membangunkanmu.”

“Berapa lama aku tidur?”

“Satu throng mungkin? Entahlah..aku tidak menghitungnya dengan pasti. Dan aku memang mengganti kemejaku. Kau selalu suka saat aku memakai kemeja putih kan?” Pria itu mengerling jahil, membuat Eun Hee dengan cepat merona.

“Apa aku terlihat seperti terobsesi? Kau tidak berpikir aku mempunyai semacam kelainan seks kan?”

“Wow..kau sudah mulai berbicara tentang seks? Mau mencoba gaya baru disini? Aku rasa disini cukup lumayan.”

“Yak!” Eun Hee memukul lengan Jongin, tindakan refleksnya karena ucapan Jongin yang selalu saja membuat wajahnya memanas. Jongin tertawa lepas, tawa yang sudah bertahun-tahun tidak ditunjukannya pada siapapun. Dan Eun Hee terdiam, ingin sekali mengabadikan senyum itu dengan kamera ponselnya. Mencetaknya besar-besar dan menempelkannya di dinding kamar agar dia tidak merasa kesepian saat Jongin tidak berada di sisinya. Baiklah..sekarang Jo Eun Hee terdengar seperti maniak yang begitu terobsesi pada Kim Jongin.

“Aku rasa kau masih normal, Eun Hee-ya. Selama kau belum memintaku untuk mencambukmu atau semacamnya saat kita bercinta aku rasa semua masih wajar. Tapi..jika kau menyukai gaya bercinta seperti itu, aku tidak akan keberatan menjadi penganut BDSM.” Jongin menunjukkan smile andalan yang bisa membuat gadis manapun takluk padanya. Untuk kali ini mungkin sebuah pengecualian bagi Eun Hee karena gadis itu justru menatap sebal pada Jongin, sekuat hati menahan diri untuk tidak memukul suaminya.

“Apa kau selalu semesum ini Jong?”

“Hanya padamu.”

“Kenapa kau mengajakku kemari?” Eun Hee mengganti topik pembicaraannya dengan tiba-tiba, terlalu malu membahas hal-hal loose. Jongin yang sudah memahami istrinya hanya mengernyitkan dahi, lalu mengusap pipi Eun Hee dengan lembut.

“Mengajakmu berkencan.” Jawabnya cepat. “Kau sudah membaca notebook yang aku tinggalkan?”

“Kau sengaja meninggalkannya?”

“Apa jawabanmu?”

“Jawab dulu pertanyaanku Kim Jongin!” Eun Hee meninggikan suaranya, kesal dengan pembicaraan mereka.

“Aku tidak bermaksud membuatmu merasa bertanggung jawab atas perasaanku. Tapi rasanya benar-benar tersiksa jika harus merasakan cinta bertepuk sebelah tangan. Jadi tidak ada salahnya kan mengajak orang lain untuk ikut menderita bersama?”

“Kau mulai terdengar seperti psikopat, Jong.”

“Memangnya ada cara lain yang lebih indah dari merasakan bahagia dan sengsara denganmu?” Jongin bertanya retoris, tidak memerlukan jawaban apapun. Karena dia tahu, Eun Hee akan menyetujuinya. Jika tidak, dia akan membuat gadis itu menyetujuinya. “Aku selalu ingin melakukan semua tahapan dengan benar, mengajakmu berkencan lalu memintamu menikah denganku. Tapi Tuhan sedang tidak berbaik hati saat itu, karena aku harus ke Amerika untuk melanjutkan pendidikanku, dan…apa yang menimpa Na Ra noona benar-benar mengubah semua rencanaku. Rencana hidup yang sudah aku susun baik-baik.” Jongin menerawang ke depan, perlahan namun pasti pria itu mulai mencurahkan isi hatinya.

“Apa yang menimpa Na Ra-ssi memang berat. Sedangkan kau begitu dekat dengannya, aku tidak heran jika kau juga merasakan dampak kesedihan Na Ra-ssi.”

“Kau tahu?”

“Eoh..Cho Kyuhyun-ssi memberitahukan semuanya padaku.” Eun Hee menggenggam tangan Jongin, mengatakan kata-kata penguatan melalui tindakannya. “Kau perlu tahu satu hal Jong.” Gadis itu sengaja menggantungkan kalimatnya, sementara Jongin sudah kembali menatap lekas istrinya. Menunggu dengan sabar. “Aku tidak menyesal menikah denganmu.”

Jongin sudah hampir saja berteriak kegirangan, tapi sesuatu bernama gengsi menahannya. Jadi pria itu menahan diri dan hanya bisa menggenggam tangan Eun Hee sebagai pelampiasan.

“Apa yang kau lakukan padaku memang terlihat singular. Semuanya..aku tahu semuanya. Tentang bagaimana kau mengambil alih saham perusahaan appa-” Eun Hee mengeratkan genggamannya, mengisyaratkan pada Jongin untuk tidak menyelanya. Dia sedang mempergunakan kesempatan terbaiknya untuk berbicara pada suaminya. Kesempatan yang teramat langka. ” – aku tidak akan bitterness soal hal itu. Karena kau telah menyelamatkan perusahaan keluarga kami. Memberikan suntikan dana segar pada perusahaan yang sudah hampir bangkrut dan…aku benar-benar minta maaf untuk tidak mengenalmu. Kau mungkin sudah terlalu banyak tahu tentangku, sementara aku tidak tahu apa-apa soal dirimu. Itu benar-benar melukai harga diriku, tahu?” Jongin terkekeh, sudah berniat meraup bibir Eun Hee. Tapi gadis itu menahannya. Dia akan suka rela berciuman dengan Jongin sampai sesak, sampai kehabisan napas juga nantinya. Tidak sekarang. Dia belum selesai. “Tapi kau tidak tahu kan jika aku juga pernah jatuh cinta?”

“Kau sedang memancing rasa cemburuku Mrs Kim? Aku bisa membunuh pria itu sekarang juga.” Jongin kembali mengeluarkan sisi posesifnya, menampakkan mata hitamnya yang berkilat bitterness.

“Well..terserah padamu jika kau ingin membunuhnya nanti. Aku jatuh cinta pada seorang pemuda yang selalu duduk di taman kota saat aku sedang membaca buku. Dan hari itu, hujan turun dengan tiba-tiba. Dia menghampiriku dan memberikan payungnya tanpa mengatakan sepatah katapun. Aku bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih alih-alih menanyakan namanya. Dan aku jatuh cinta padanya seperti itu saja. Tidakkah kau berpikir itu konyol? Rasa-rasanya takdir sedang mempermainkan kita kan? Karena beberapa tahun setelahnya pemuda itu menikahku dengan cara yang sama konyolnya. Kata konyol lebih sopan dari menyeramkan kan?” Eun Hee mengakhiri kalimat panjangnya dengan menyapukan bibir lembutnya di atas permukaan bibir Jongin. Pria itu luar biasa terkejut, hampir saja kehilangan kesadaran jika dia tidak merasakan Eun Hee menggenggam erat tangannya.

“Kim Eun Hee..”

“Berhenti menjadi Mr Paling Sok Tahu, Jong. Kau memang mengetahui banyak hal tapi tidak semuanya kan? Kau pikir hanya kau sendiri saja yang menderita karena menunggu orang yang dicintai? Aku juga.” Eun Hee merasa bebannya terangkat setelah dia mengatakan hal-hal limit pribadinya pada Jongin. Pria itu memang luar biasa kaya dan berkuasa tapi dia tetaplah manusia. Ada satu sisi dimana dia tidak tahu apapun, termasuk soal dirinya. “Maaf untuk membuatmu merasakan banyak rasa sakit, menanggung perasaan sendirian tentu bukan hal mudah. Jadi, aku menyetujuinya. Tawaran untuk sengsara dan bahagia denganmu terdengar sangat menggiurkan.”

Jongin tidak tahu lagi apa yang harus dikatakannya, dia merengkuh Eun Hee dalam pelukan posesifnya. Pelukan yang selalu saja membuat mereka semakin jatuh cinta.

Tapi Kim Jongin tetaplah pria kaku yang tidak bisa terlalu banyak berkata-kata. Alih-alih mengatakan jutaan kata cinta pria itu justru meletakkan dagunya di puncak kepala Eun Hee, menciuminya berkali-kali tanpa bosan.

“Terima kasih…” Ucapnya berkali-kali.

Matahari perlahan kembali ke peraduannya sementara dua sosok manusia yang masih terus saja jatuh cinta itu saling menatap. Seolah tanpa bosan dan nyaris tidak berkedip.

“Aku tidak bisa menjanjikan banyak hal padamu. Tapi aku akan mencoba menerimanya di antara kita.” Ujar Jongin tiba-tiba sementara Eun Hee menatap suaminya itu. Wajah Jongin nampak berkilauan di bawah siraman cahaya jingga. Dan seolah jutaan kata-kata di dunia tidak bisa mendeskripsikan kekaguman gadis itu pada pria yang berstatus suaminya. Dia selalu beranggapan bahwa ketampanan yang nyaris membutakan mata tak lebih dari sekadar metaphore. Tapi metaphore itu kini nampak nyata, nampak begitu jelas dalam jarak pandangnya.

Eun Hee meletakkan kepalanya di bahu Jongin, menggamit lengan pria itu dengan erat. Dia sudah kehabisan kata-kata, sebab berterima kasih saja tidak cukup. Tidak akan pernah cukup dan dia tahu itu. Maka dia hanya akan berusaha untuk selalu ada di sisi pria itu, mencoba membuatnya bahagia.

**

2 days later

Jongin’ Mansion, Seoul

Dua pria itu tengah bertatapan sengit. Si pria berkulit make tawny menatap nyalang pria berkulit porselen di depannya. Si pria berkulit porselen nampak tak acuh, sesekali memutar bola matanya sebagai tanda kebosanan.

“Jadi, apa kau mau selalu seperti ini?” Tanya Sehun dengan nada malas. “Kita sudah seperti ini selama satu crowd penuh tanpa mencapai kesepakatan Kim Jongin. Itu menyebalkan, tahu? Semoga orang-orang di rumah ini tidak berpikir bahwa aku sedang berkencan denganmu. Bahwa tuan muda mereka adalah seorang biseksual. Ya Tuhan..itu sangat mengerikan” Sehun memajang wajah ngeri yang begitu palsu, sementara Jongin memasang ekspresi datar.

“Sekalipun aku seorang biseksual. Aku tidak akan menjadikanmu sebagai partnerku.” Ujar Jongin kesal. “Dan ngomong-ngomong, aku tidak setuju dengan terapi CBT atau apapun yang kau sarankan. Aku baik-baik saja, Hun!”

“Seperti kau pernah setuju saja dengan semua saranku. Seperti kau pernah mendengarkan perkataanku saja. Sesukamu lah tuan muda Kim.”

“Aku setuju menjadi pasienmu dan itu sudah sangat melukai harga diriku. Bukankah secara tidak langsung aku mengakui bahwa aku mempunyai semacam kelainan?”

“Memangnya sejak kapan kau usual?” Jongin hanya mengangkat bahu sebagai jawaban akan pertanyaan Sehun. Pria itu meletakkan dua tangannya di atas meja. Kali ini raut wajahnya berubah serius. Nyaris seperti vampir sempurna tanpa cacat di wajah. “Kau harus berhenti mengkonsumsi benzodiasepines.”

“Aku tidak-”

“Jangan mengatakan kau tidak meminumnya lagi. Kemarin jumlahnya 69 dan hari ini jumlahnya hanya ada 67. Itu artinya kau sudah menelan dua pil itu lagi.”

“Kau seperti sasaengku! Tidak takut orang-orang berpikir bahwa kau menyukaiku, Hun?”

“Aku akan membiarkanmu mengatakan apapun. Tapi kali ini kau harus benar-benar mendengarkanku. Benzodiasepines bersifat sangat adiktif. Itu memang akan memberimu ketenangan, tapi setelahnya kau akan benar-benar kecanduan jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Kau tidak mau kan menjadi seorang pecandu?”

“Setidaknya itu lebih baik daripada aku menjadi pecandu narkoba kan?” Jongin berujar cuek, dan hal itu membuat Sehun mati-matian menahan diri untuk tidak mencekik Kim Jongin.

“Lebih baik lagi kau menjadi pecandu Jo Eun Hee.” Cibir Sehun tak mau kalah.

“Aku memang sudah menjadi pecandunya. Selama bertahun-tahun yang meyakitkan.”

“Kau ini melankolis sekali. Menjijikan. Sudah lah, cepat atur jadwalmu untuk melakukan terapi CBT. Kali ini kau harus benar-benar mematuhiku. Kecuali jika kau mau mati muda.” Jongin menegang di kursinya, diam-diam meremas lengan kursi yang didudukinya hingga jari-jarinya kebas. Sehun berdiri dari tempatnya, merapikan kemejanya yang sama sekali tidak kusut.

“Aku tidak peduli jika kau mati muda atau semacamnya. Tapi kau harus memikirkan Eun Hee. Kau bilang kau mati-matian mencintainya kan? Jadi jangan buat dia menjadi janda muda dengan kematianmu. Lagi pula, jika kau cepat mati kau tidak takut dia akan menikah lagi? Bayangkan saja Jo Eun Hee menikah dan bercinta dengan pria lain.” Sehun menampilkan smile andalannya, merasa puas sudah “memukul telak” Jongin.

“Dia tidak akan melakukannya!” Geram Jongin dengan rahang terkatup rapat.

“Tahu apa kau? Memangnya jika kau sudah mati kau bisa melakukan apa? Kau ini kadang-kadang memang bodoh sekali ya?”

“Sialan!” Jongin memaki, lalu dengan tergesa dia mengambil gagang telfon di depannya. Seperti biasa menelfon orang kepercayaannya. “John..kosongkan jadwalku setiap hari Kamis dan Sabtu pukul tiga hingga lima violently.” Jongin segera menutup sambungan telfonnya, serta merta menatap nyalang Sehun.

Sehun tersenyum puas mendengar percakapan Jongin dengan John. “Kau puas sekarang?” Tanya Jongin retoris dengan emosi yang sedang ditahannya.

“Good lad. Kalau begitu sampai jumpa tuan muda Kim.” Sehun melambai tanpa berbalik lagi untuk melihat Jongin. Dan saat pria itu menutup pintu, dia luar biasa terkejut mendapati sosok Eun Hee yang sudah berdiri disana. Kedua tangan gadis itu meremas t-shirt oranye yang dikenakannya.

“Mrs Kim?” Sehun menyapa dengan ramah. Tatapan matanya melembut, bak malaikat penolong yang dikirim Tuhan dari surga. Ini pertama kalinya Sehun dan Eun Hee bertatapan secara langsung. Walaupun Sehun sudah mengetahui soal Eun Hee dari bibir Jongin sendiri dan Eun Hee yang mengetahui tentang psikiater muda itu dari informasi yang dikumpulkannya diam-diam.

“Jongin..” Eun Hee mengigit bibir bawahnya, masih begitu bingung dengan kalimat yang akan ditanyakannya. “Apa..dia? Maksudku.. Kim Jongin, bagaimana keadaannya?” Susah payah Eun Hee menyusun kalimat, terlalu takut dengan apa yang akan di dengar.

“Jongin “hanya” menderita anxiety disorder Mrs Kim. Bukan leukimia stadium akhir. Dia…bagaimana ya? Aku juga tidak bisa mengatakan dia baik-baik saja. Kau ingin jawaban jujur atau jawaban penghiburan?” Sehun menyembunyikan senyum separuhnya, sedangkan Eun Hee refleks mencekal pergelangan tangan Sehun, mengiba.

“Aku mohon katakan yang sejujurnya. Apa dia bisa sembuh? Dia akan baik-baik saja kan? Dia tidak akan mati muda kan?” Eun Hee mencecar Sehun dengan berbagai pertanyaan, sementara pria itu mengeryitkan dahinya.

“Sudah berapa lama kau disini?”

“Sejak kau datang kemari Sehun-ssi. Maaf, aku tidak berniat mencuri dengar. Hanya saja aku sangat mengkhawatirkan suamiku. Aku tidak mungkin bertanya langsung padanya kan? ” Ada gelanyar aneh saat Eun Hee mengatakan “suamiku”. Kata yang masih begitu asing namun amat disukainya.

“Kau baik sekali.” Ujar Sehun mendistraksi atensi Eun Hee yang sempat kabur entah kemana. “Aku tahu Jongin mempunyai gengsi setinggi langit. Dia tentu saja tidak akan membiarkan orang lain mengetahui hal-hal paling pribadinya. Aku akan mengusahakan yang terbaik. Sekarang yang bisa kau lakukan adalah membuatnya tenang dan nyaman. Hindarkan dia dari berbagai hal yang bisa memicu kecemasannya. Kau bisa melakukannya Mrs Kim?” Eun Hee mengangguk cepat tanpa sempat berpikir. Dia hanya perlu mengiyakan, mengusahakan apapun yang dia bisa demi Jongin.

“Aku akan melakukannya. Apapun.”

“Kalian scaly ant-eater sekali. Kenapa Mirae noona bisa bertahan bekerja disini ya? Aku yakin rasa dengkinya sudah pada batas maksimum.” Ekpresi wajah Sehun berubah kekanakan, serta merta terkekeh membayangkan wajah kesal Mirae setiap harinya. Sehun lalu berjalan meninggalkan Eun Hee yang masih belum bisa mencerna perkataan Sehun.

**

Eun Hee melangkahkan kakinya menuju kamar Jongin setelah mempertimbangkan dengan matang apa yang harus dilakukannya setelah ini. Saat ini entah kenapa dia merasa begitu bertanggung jawab tentang apa yang menimpa Jongin. Suka atau tidak, Kim Jongin sudah menjadi bagian darinya, menguasai hampir seluruh kewarasannya. Karena masih ada setitik kewarasan yang tersisa untuk paling tidak membuatnya berpikir jernih. Dia juga tidak sepenuhnya yakin.

Gadis itu tidak menemukan Jongin di kamarnya, witticism dengan ruang kerjanya. John yang setia memberitahu nona mudanya dengan sangat sopan tentang keberadaan Jongin. Eun Hee yang tidak sabaran segera berlari menuju tempat yang diberitahukan John padanya.

Jo Eun Hee tersengal-sengal, masih berusaha bernapas dengan baik. Kali ini dia sendiri bingung alasan dia sulit bernapas. Antara lelah setelah berlari atau pemandangan di depannya. Adalah Kim Jongin yang separuh tubuhnya berada di kolam renang. Sementara bagian atas tubuhnya dibiarkan terbuka, membuat sinar matahari dengan leluasa menyirami tubuh atletisnya. Kulit make tawny pria itu nampak berkilauan. Dan Jongin begitu tenang, nyaris tak bergerak kecuali gerakan ringan di punggungnya yang menunjukkan dia masih bernapas. Bahwa dia masih manusia.

Jongin yang indera penciumannya menangkap perfume familiar black orchid membalikkan tubuhnya, menatap Eun Hee dengan tatapan yang nyaris selalu sama. Bahwa pria itu….memuja istrinya.

“Jangan berlari-lari Mrs Kim, ingat kondisimu.” Ujar Jongin mengingatkan. Dia mengeluarkan tangannya dari dalam look, memberikan isyarat agar Eun Hee mendekat.

Gadis itu seperti biasa seolah tersihir pada pesona tak manusiawi suaminya. Dia dengan jantung yang meronta-ronta berjalan pelan ke arah Jongin, mendudukkan diri di tepi kolam renang. Kedua kakinya dicelupkan ke dalam breeze, sementara Jongin sudah menyandarkan punggungnya di dinding dingin kolam renang. Refleks Eun Hee menyentuh punggung Jongin, merasakan otot-otot kekar punggung pria itu. Sejenak Jongin memejamkan matanya saat tangan Eun Hee menyentuh punggungnya. Dia nyaris lupa cara menarik nafas dengan benar. Nyaris lupa berpijak dengan baik pada kedua kakinya.

“Ada apa Eun Hee-ya? Merindukanku?” Ujar Jongin susah payah. Dia dengan segera menguasai dirinya. Dan seketika itu juga dia jadi bertanya-tanya, bagaimana dia bisa mengatur ribuan karyawannya sementara dia sendiri tidak bisa mengatur dirinya sendiri saat berhadapan dengan Eun Hee?

“Eoh.” Eun Hee mengangguk. Dia tidak mau menutupi perasaanya lagi. Kerinduan itu memang sudah ada. Dia sudah begitu merindukan Jongin bahkan saat mereka baru saja berpisah selama berapa? Dua mass of people pun belum genap.

‘I like it.”

“Kenapa berenang di siang hari seperti ini Jong? Kau tidak pergi kerja? Atau ada yang menganggu pikiranmu? Kau bisa menceritakannya padaku. Aku akan mendengarnya.” Eun Hee berbicara dalam satu tarikan napas yang seharusnya menyesakkan. Tapi gadis itu tidak menampakkan tanda-tanda kehabisan napas, justru menampilkan wajah bak malaikatnya yang seperti anak kecil.

“Kau perhatian sekali. Aku jadi terharu.” Jongin berkata dengan nada mencibir.

“Memangnya kau saja yang bisa perhatian padaku? Aku juga ingin melakukannya Jong.”

“Katakan apa maumu Mrs Kim?”

“Ne?

“Say it. Apa maumu?” Jongin berujar tegas menatap Eun Hee tepat di kedua manik matanya. Dia tahu bahwa Eun Hee ingin menyampaikan sesuatu yang sedari tadi ditahannya.

Gadis itu jadi merasa sial karena Kim Jongin terlalu memahaminya. Terlalu tahu tentang apa-apa yang ada di pikirannya.

“Aku ingin pergi kencan.” Jongin tertegun mendapati perkataan Eun Hee. Dia hanya tidak menyangka perkataan semacam itu akan keluar dari bibir istrinya.

“Kita sudah melakukannya kemarin.”

“Oh ayolah Jong. Memangnya kau hanya membutuhkan kencan sekali seumur hidup. Aku masih ingin banyak melakukan kencan denganmu. Gagasan tentang menghabiskan banyak waktu denganmu terdengar amat sangat menarik sekarang.”

“Aku harus mulai memperhatikan bacaanmu.” Pria itu menampilkan senyum separuhnya. Kali ini dia bergeser, memposisikan dirinya di kedua kaki Eun Hee setelah membukanya terlebih dahulu. Gerakan pria itu membuat Eun Hee membeku di tempatnya, sedangkan kemampuan verbalnya mengalami penurunan drastis. Nyaris hilang juga, mungkin.

“Katakan kau ingin kemana? Verona? Barcelona? Lyon? Dublin atau..” Jongin menggantungkan kalimatnya mendapati ekspresi kesal di wajah Eun Hee. Dia terkekeh seraya mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi istrinya. “Kau saja yang menentukan.” Ujar pria itu menyelesaikan kalimatnya. Eun Hee nyaris memekik dan melompat-lompat kegirangan jika saja dia tidak sedang dilanda gugup yang luar biasa karena posisi mereka sekarang.

“Aku hanya ingin berjalan-jalan di Gangnam, pergi ke taman kota, membeli beberapa barang embrace, saling menggenggam tangan dan-” Eun Hee mendenguskan napasnya dengan kasar, memberi jeda di antara kalimatnya yang panjang “Kau pasti tidak akan menyetujuinya, kan? Hal-hal seperti itu pasti akan terdengar sangat menjijikkan bagimu.”

“Aku bahkan belum mengatakan apapun.”

“Semua jawabannya sudah tertulis jelas di dahimu Jong.”

Jongin mengangkat bahu sebelum menanggapi perkataan istrinya.

“Nampaknya aku mulai menyukai sesuatu di dalam perutmu itu. Dia membuatmu banyak merajuk padaku, dan aku menyukainya. Kajja.”

Dan saat Eun Hee masih begitu terkejut dengan apa yang dikatakan suaminya, pria itu sudah keluar dari kolam renang. Dengan tubuh setengah basah dia menarik Eun Hee berdiri. Jongin terkekeh geli mendapati ekspresi terkejut istrinya.

Sementara itu Eun Hee melontarkan sumpah serapahnya di dalam hati tentang betapa Kim Jongin tidak mau berbelas kasih padanya. Maksudnya, dalam kondisi “normal” saja Jongin sudah membuatnya sesak napas, dan sekarang Jongin dengan tubuh topless setengah basah menampilkan punggung yang selalu menjadi obsesinya. Jo Eun Hee harus rutin pergi ke dokter untuk mengecek kondisi kesehatannya.

**

Evans’ Tennis Hall, Seoul

2 pm

Matahari musim half yang tidak terlalu terik menyorot bumi dengan angkuhnya, lambat laun menjadi semakin membakar kulit. Seolah memberitahukan bahwa musim panas hampir tiba. Bahwa musim semi yang hangat akan segera berlalu.

Adalah Lee Na Ra yang menaruh kebencian tak bertepi pada panas matahari yang menyengat. Tapi, gadis itu melakukan sesuatu yang berada di luar kebiasaannya. Di sebuah lapangan tenis milik keluarganya, Na Ra terus memukul bola tennis yang diambilnya dengan acak dari troli di sampingnya. Gadis itu terus memukul bola-bola yang berjumlah ratusan itu hingga lengannya kram, nyaris mati rasa. Tapi dia mengabaikannya, dia terus saja melampiaskan semua kekesalannya pada bola-bola tennis yang tak berdosa itu. Setelah ratusan bola di dalam troli habis dia semakin kesal dan menendang troli kosong itu. Dia memandang ke depan, dengan mata berkilat bitterness dan keringat bercucuran. Wajahnya sudah basah oleh keringat atau mungkin juga breeze mata yang tengah mati-matian disembunyikannya.

Tak lama, sebuah tangan terulur. Butuh beberapa detik bagi Na Ra untuk mengetahui siapa pemilik tangan itu. Lalu saat menyadarinya dia menyambut uluran tangan hangat itu. Tidak ada senyum, hanya wajah datar nan dingin tanpa cela yang selalu membuatnya semakin tak manusiawi.

“Cinta memang membuat orang-orang kehilangan logikanya. Bahkan gadis paling rasional di dunia bisa melakukan hal-hal seperti ini.” Suara Kyuhyun terdengar datar. Pria itu berbicara seolah tanpa emosi. Dia menuntun Na Ra untuk duduk di salah satu bangku besi di lapangan tennis milik keluarga Evans seraya memberikan sebotol minuman isotonik. Na Ra segera meminumnya hingga tandas, masih berusaha mengatur napas dan detak jantungnya yang beraturan akibat olahraga gila-gilaan yang dilakukannya beberapa hari ini.

“Setidaknya aku tidak mengkonsumsi anti depresan seperti saat putus denganmu Cho.”

Kyuhyun terhenyak mendengar perkataan Na Ra, tapi buru-buru pria itu menguasai dirinya. Gadis itu memang menyukai konfrontasi langsung. Tidak suka membicarakan sesuatu di belakang alih-alih bergosip ria seperti gadis kebanyakan.

“Sedang menguji rasa bersalahku, ya?”

“Menurutmu?”

“Kau masih saja sama jahatnya Mrs Wu.”

“Memang kapan aku menjadi gadis baik-baik? Dan ngomong-ngomong sejak kapan kau memanggilku Mrs Wu? Itu menggelikan sekali.”

“Semua yang aku katakan kan akan terdengar salah di telingamu. Soal panggilan itu…” Kyuhyun menggantungkan kalimatnya, nampak sedikit ragu dengan apa yang akan dikatakannya. “Mrs Wu memang terdengar lebih cocok untukmu. Lagipula kau kan mencintai suamimu setengah mati. Seharusnya kau bahagia, Ra~ya.”

“Sok tahu.”

“Keras kepala sekali. Seperti biasa. Jadi, apa masalahmu?” Kyuhyun menatap lekat rainbow cokelat terang Na Ra, sementara gadis itu mengalihkan pandangannya. Nyaris mustahil menyembunyikan apapun dari Kyuhyun saat mereka saling bertatapan.

“Tidak ada.”

“You’re not a immaculate liar. At least in front of me. Katakan saja, aku sedang berbaik hati untuk menjadi tongue sampahmu.” Kyuhyun membujuk, walaupun lebih terdengar seperti perintah yang harus ditaati. “Kau tidak akan bermain tennis selama berjam-conserve jika sedang tidak ada masalah. Kau tidak akan melakukan hal-hal yang menguras tenaga jika tidak ada yang membuatmu bitterness. Kau akan melakukan semuanya, sampai tenagamu nyaris habis. Setelahnya kau akan tidur selama delapan belas mass of people tanpa terbangun. Terdengar sangat Lee Na Ra, kan?”

Na Ra tersenyum kecut, tahu bahwa dia nyaris tidak bisa menyembunyikan apapun dari Kyuhyun.

“Aku memang dikutuk karena mengenalmu Cho.”

“Mwo?”

“Kau terlalu mengenalku, membuatku merasa sial karena tidak bisa menyembunyikan apapun darimu. Kau puas sekarang?”

“Jadi, sekarang aku sudah bisa membanggakan diriku?” Kyuhyun bertanya retoris, memasang wajah setengah tertawa yang menyebalkan.

“Sesukamulah, sejak kapan Cho Kyuhyun meminta izin untuk menyombongkan diri?”

Keduanya tertawa selama beberapa saat, lalu kemudian terdiam. Hanya ada suara desau angin yang terdengar.

“Aku mencintai Kris Wu.” Ucap Na Ra pada akhirnya yang sukses membuat Kyuhyun tersentak dan secara refleks menggenggam ujung tuxedonya. Tapi dia seperti biasa dapat menyembunyikan perasaanya dengan baik. Dia memilih diam, mendengarkan dengan sabar. “Tapi, dia tidak mempercayaiku Cho. Dia bahkan menuduhku melakukan hal yang tidak-tidak denganmu. Itu sangat menyakitkan, begitu melukai harga diriku.”

“Itu karena dia cemburu padamu Ra~ya, pada kita mungkin?” Kyuhyun menjawab dengan cepat, nyaris tanpa berpikir.

“Nonsense!” Na Ra mencebikkan bibirnya. ” Dia suamiku, bukankah seharusnya dia mempercayaiku?”

“Jika aku berada di posisinya, aku mungkin sudah membunuh pria yang berdekatan dengan istriku.”

“Itu kan hanya ada dalam otak gilamu. Kris tidak seperti itu.” Na Ra setengah membela Kris, sementara Kyuhyun kini justru tersenyum lebar.

“Lihat! Bahkan saat bertengkar kau masih membelanya. Kau tidak takut aku cemburu?”

“Memangnya aku harus bertanggung jawab dengan perasaanmu?”

“Tidak juga. Perasaanku adalah milikku, aku tidak akan meminta siapapun untuk bertanggung jawab tentang apa yang aku rasakan.”

“Kau banyak berubah Cho.”

“Kau juga.”

“Tentu saja. Aku bukan lagi gadis muda labil yang depresi hanya karena putus dari kekasihnya.” Na Ra memandang Kyuhyun dengan tatapan lembut, sama sekali tidak ada niat menghakimi. “Dan..entahlah..aku masih tidak yakin saat ini. Jika ini sudah menyangkut cinta, aku rasa sekalipun saat ini aku sudah menjadi wanita dewasa anti depresan bisa menjadi solusi kan?”

“Lee Na Ra.” Kyuhyun setengah berteriak seraya mencengkram kedua bahu gadis di depannya. “Jangan macam-macam dengan obat sialan itu!” Ujarnya dengan penekanan di setiap kalimat.

Na Ra terkekeh, melepaskan cengkraman Kyuhyun yang dirasanya nyaris meremukkan tulang.

“Tidak akan Cho. Aku tidak akan membuatmu semakin merasa bersalah. Aku akan hidup dengan bahagia, dengan atau tanpa Kris.”

“Kau akan bercerai dengannya?”

“Cho Kyuhyun memang jenius!” Kyuhyun mendenguskan napasnya kasar, dia segera berdiri seraya menarik Na Ra.

“Aku tidak mempermasalahkan penghakimanmu padaku. Bahkan seumur hidup sekalipun aku akan dengan senang hati menerimanya. Menerima setiap kemarahan yang sampai detik ini sama sekali tidak kau tunjukkan. Anggap saja aku masokis, pesakitan yang menyedihkan. Apa semua itu tidak cukup untuk membuatku bisa menebus rasa bersalahku? Dan sekarang kau membuat semuanya sia-sia dengan tidak bahagia. Kau sedang mempermainkanku, huh?” Kyuhyun nyaris berteriak, walaupun jelas-jelas pria itu masih mempertahankan nada bicaranya agar serendah mungkin. Na Ra menatap Kyuhyun lekat, nyaris menangis karena perkataan Kyuhyun. Betapa dia sudah menyakiti banyak orang karena keegoisannya. Dia benar-benar tidak termaafkan.

Kyuhyun terdiam mendapati mata Na Ra yang berkaca-kaca. Dia tahu gadis itu tidak akan menangis di depannya. Lee Na Ra punya gengsi setinggi langit.

“Ra~ya, aku tidak meminta kesempatan kedua padamu bukan karena aku merasa rendah diri atau tidak pantas menjadi pendampingmu. Tapi karena aku tahu, bahwa sesuatu yang sudah hancur jika disatukan tidak akan utuh seperti semula. Akan selalu ada cacat. Akan selalu ada hal-hal yang melukaimu. Aku mempercayakanmu pada Kris Wu, mempercayakan satu-satunya gadis yang masih dan akan selalu aku cintai padanya. Tidakkah kau mau berbelas kasih padaku sedikit saja? Buat aku bahagia dengan kebahagiaanmu. Jebal.” Suara Kyuhyun merendah, nyaris berbisik. Dia mempertahankan kedua tangannya untuk tidak menyentuh Na Ra. Dia tidak akan sanggup jika kulit mereka bersentuhan. Dia sadar betul bahwa pertahanan dirinya amat sangat buruk jika sudah menyangkut Lee Na Ra.

“Cho Kyuhyun…” Panggil Na Ra pada akhirnya. Mereka masih berdiri berhadapan, masih saling menjaga jarak. “Pikirkan kebahagiaanmu juga. Kau selalu memikirkan kebahagiaanku, mengutamakan semuanya untukku tapi kau bahkan nyaris melupakan bahwa kau juga butuh bahagia.”

“Kebahagiaanku ada padamu Ra~ya, kau tahu betul akan hal itu.”

“No..~t one. I don’t buy that benign of thing.” Na Ra menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan ketidaksetujuan pada kalimat Kyuhyun. “Listen Mr Cho, don’t perpetually hang your happiness on me or in c~tinuance someone’ else. Because when I’m gone or in likelihood when that someone left, you would acquire nothing but pain. And I won’t lease you drown on that kind of grief. Ever.”

Na Ra mengusap pelan bahu Kyuhyun, membuat pria itu hanya bisa diam tanpa sanggup mengucapkan kata-kata lagi. Pertahanan dirinya nyaris runtuh. Belum.

“Aku akan bahagia. Dan kau juga. Aku tidak akan repot-repot menamai hubungan kita sebagai pertemanan atau semacamnya.”

“There’s none such things. You definitely know that.” Kyuhyun berbicara dengan suara seraknya.

“Genius Cho.” Pekik Na Ra girang, dan Kyuhyun tidak terkejut dengan perubahan suasana hati Na Ra yang tiba-tiba. Dia tahu bahwa hal itu akan terjadi. “Aku tidak akan menjadi temanmu karena kau tidak menyetujuinya. Tapi aku adalah orang yang peduli pada kebahagiaanmu. Jadi, kau juga harus bahagia, ok?” Na Ra tersenyum tepat saat Kyuhyun mengangkat wajahnya. Senyum menawan dengan sight smile yang selalu menjadi favorit Kyuhyun. Pria itu secara refleks memeluk Na Ra dan segera melepaskannya, seketika merasa berdosa.

“Maaf untuk yang tadi.” Ujar Kyuhyun seraya mengusap tengkuknya dengan kikuk. “Jadi, kau tidak jadi bercerai dengannya kan?” Kyuhyun menanyakan hal yang masih saja mengusik hatinya. Sementara dia mati-matian menahan rasa penasaran, Na Ra justru melenggang pergi, meletakkan raket tennis-nya dengan asal.

Kyuhyun berkacak pinggang, menahan emosi yang sudah memenuhi rongga dadanya. Tapi dia mengurungkan niatnya, menelan bulat-bulat kemarahannya. Pria itu setengah berlari menyusul Na Ra.

“Jadi kau tidak akan bercerai dengannya kan?” Ulang Kyuhyun lagi. Kali ini dengan nada tidak sabar. Na Ra hanya menatap Kyuhyun sekilas lalu memasuki Chevrolette Corvette Stingray kesayangannya.

“We’ll pay attention Mr Cho. Ternyata aku tidak terlalu sial. Setidaknya kau tidak bisa membaca pikiranku.” Na Ra mengerling seraya menutup pintu mobilnya. “Au revoir Cho.” (See you, Cho) Ucapnya sebelum meninggalkan Kyuhyun yang sedang menahan diri untuk tidak mengumpat dan berpotensi menaikkan tensi darahnya.

“Selalu saja seenaknya sendiri. Sangat Lee Na Ra.” Ujar pria itu sebelum memasuki mobilnya dan pergi sebelum keinginan untuk menyusul Na Ra menguasai dirinya.

TBC

Note :

Chapter ini tidak sepanjang kemarin. Sebenarnya saya sudah akan menambahkan adegan kencan yang Jo Eun Hee usulkan pada Jongin tapi rasanya kurang pas. Karena akan terlalu panjang dan membosankan.

Well… sebenarnya sedang melatih diri untuk tidak terlalu dengki pada Jongin dan Eun Hee -_-

Spoiler kencan mereka sendiri sudah saya part di Instagram saya : bellecious0193. Kencan yang…berbeda dari kencan sebelumnya dimana selalu banyak melibatkan kontak fisik. Kencan kali ini mungkin akan terlihat lebih “normal”.

Chapter ini memang sengaja saya buat untuk ‘’sedikit-banyak’’ menguak kisah bond lain. Tapi, saya mungkin tidak akan terlalu banyak membahas join lain. Untuk couple lain mungkin akan saya buatkan espouse a cause story.

I don’t know yet…

Semoga saya mendapat inspirasi ya ^^

Have a trim day

 

 

Na Ra Lee

Older Newer

THE FORGOTTEN SENTENCES FRIENDS WITH BENEFITS – CHAPTER 3

C) Schiff’s base cleaves at ~ly pH site, D) increased pressure causes the microcapsule to tumefy, E) exploding of the microcapsule, F) uptake of drugs released from exploding microcapsules by cancerous cell, and G) apoptosis of swelling cells.