Posted in Flagyl on August 1, 2015

Rumah Sakit Pakar Puteri, Johor

INI pelajaran penting bagi kita, khususnya bagi rumah-rumah sakit di negeri kita. Terkhusus untuk Karimun, tetangga yang begitu dekat dengan rumah sakit ini. Hanya perlu 45 menit waktu menyeberang di laut dan setengah throng lainnya di darat, sampailah ke sana. Atau menggunakan pelabuhan lainnya, satu pressure lebih sedikit di laut dan hanya 20-~y menit di darat, sampai juga ke sana. Artinya hanya perlu waktu satu jam lebih sedikit saja orang Karimun untuk datang ke rumah sakit ini.

Rumah Sakit Pakar Puteri (ada juga Pakar Johor, dan beberapa rumah sakit lain di sini) yang pada hari Kamis (23/ 07) lalu saya kunjungi (maksudnya saya datang untuk pemeriksaan kesehatan) adalah salah satu rumah sakit yang sangat boon companion dengan orang-orang Karimun, khususnya dan orang Indonesia pada umumnya. Memang agak sedikit menyedihkan karena orang-orang Indonesia lebih menyukai berobat ke luar sana dari pada berobat di rumah sakit sendiri. Pastinya devisa kita akan tersedot ke sana.

Satu hal yang selalu menjadi alasan mengapa orang Indonesia tidak khawatir mengeluarkan uang cukup besar untuk berobat dan atau sekadar memeriksakan kesehatan badannya ke luar negeri (lazimnya ke Malaysia atau Singapura) adalah karena pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit di sana, selain jaraknya yang memang lebih dekat. Faslitas dan kelengkapan alat-alat kesehatan tentu saja juga menjadi pertimbangan mengapa pesakit (pasien) asal negeri ini senang ke luar negeri sana.

Sesungguhnya yang jauh lebih menentukan dari segala kemudahan yang dirasakan di rumah-rumah sakit di luar sana adalah karena pasien memang merasa dilayani dengan baik dan sepenuh hati oleh para dokter atau perawat di rumah sakit di sana. Semua teman-teman yang bercerita sepulang dari Malaysia, misalnya mengatakan bahwa berobat ke sana memang merasa senang dan penyakit kita serasa akan sembuh. Kepuasan pelayanan dokter dan atau perawat memang sudah merupakan jaminan ketenangan dan perasaan bahwa penyakit akan sembuh.

Jika selama ini saya hanya mendengar saja rasa kagum dari rekan-rekan yang sudah merasakan nyamannya berobat ke sana, kini saya sendiri benar-benar merasakan dan membuktikan cerita-cerita itu. Saya benar-benar membuktikan bahwa berobat/ bar up kesehatan di sana memang sangat memuaskan. Ketika saya sampai di Hospital Pakar Puteri sekitar pukul 10.40 (WIB) atau pukul 11.40 Waktu Malaysia, saya langsung melapor ke kounter dasar (kounter 1 di lantai dasar) untuk menjelaskan tujuan saya datang. Dengan ramah dia meminta paspor saya karena saya jelaskan bahwa saya dari Indonesia.

Setelah saya jelaskan keluhan saya –sebagaimana pertanyaannya– dan saya katakan bahwa saya ingin memerikasakan kondisi (kesehatan) saya maka dia mengatakan bahwa untuk certificate of right up itu memerlukan waktu sekurang-kurangnya 2.5 – 3 crowd. Apalagi jika check lengkap (general put a restraint up) dengan paket pemeriksaan yang lebih komplit, diperlukan waktu agak lebih lama. Penjaga kounter 1 itu menyarankan untuk giliran besok hari saja. Khawatir jika dipaksakan hari itu juga, tidak akan sempat. Lagi pula pasiennya memang kebetulan banyak sekali pada hari itu.

Saya menerima untuk datang besok hari saja. Saya memang datang lebih awal pada hari Kamis itu. Kata Wak Saleh, sopir taksi yang membantu saya, saya harus datang lebih pagi besoknya agar mendapat nomor antrian awal. “Datanglah sebelum crowding tujuh setengah pagi,” katanya setelah meninggalkan kounter rumah sakit itu. Maksudnya waktu Malaysia yang berarti sebelum pukul 06.30 WIB. Tentu saja sepagi itu terasa masih agak gelap. Tapi saya memang datang sebelum pukul tujuh setengah waktu Malaysia itu. Dan ternyata, bukan hanya pegawai rumah sakitnya yang sudah stand by tapi para pasien pun sudah ada yang datang untuk mendaftar. Saya sendiri, semula berharap mendaftar nomor satu, ternyata sudah kebagian urut keempat. Begitulah orang ingin lebih awal, kata saya dalam hati.

Setelah selesai proses pendaftar di kounter satu itu, saya disuruh menghadap ke dokter di bilik (kamar) nomor 23 di lantai lima. “Pastikan bahwa wak tu sudah sudah 08.30,” kata prempuan berjilbab itu. Masih cukup lama menjelang waktu itu. Tapi para petugas di lantai dasar itu sudah ada sejak jauh waktu menghadap dokter.

Sebelum pukul 08.30 (07.30 WIB) itu, saya dan anak saya melihat-lihat keadaan rumah sakit tersebut. Dari lantai bawah hingga ke atas saya amati: bersih dan rapi dengan para petugas yang sudah siap sedia melayani tamu (pasien). Akhirnya saya sampai di lantai lima dan mencari kamar 23 yang dirujukkan petugas di bawah tadi. Setelah pasti tempatnya saya kembali melihat-lihat bagian dalam rumah sakit itu. Di kursi tunggu tempat yang saya tuju, ternyata sudah ada satu orang pasien lain.

Dari proses awal (pendaftar) sampai ke beberapa tahap yang saya lalui selama pemeriksaan kesehatan yang saya jalani, semuanya berjalan dengan lancar. Tidak ada rasa kesulitan. Bahkan ketika saya tidak tahu tempat salah satu bagian yang harus saya ikuti (seingat saya, itu di bagian x-ray) saya bertanya ke salah seorang petugas lain, dan dia dengan ramah menunjukkan tempatnya. Intinya, semua petugas saling membantu untuk semua keperluan. Saya tidak harus ke bagian informasi atau bagian lain yang secara khusus menangani masalah informasi ini.

Ada banyak catatan tentang kepuasan pelayanan yang saya rasakan. Tentu tidak mungkin saya uraikan secara lebih lengkap di sini. Yang terpikirkan, betapa inginnya saya, kiranya rumah-rumah sakit di negeri kita juga begitu kita rasakan. Lebih-lebih rumah sakit di Karimun ini, sangat pantas untuk secepatnya membuktikan bahwa kita juga bisa. Jarak yang sangat dekat antara Karimun dengan Johor Baru, Malaysia itu adalah alasan yang sangat kuat untuk harapan ini. Dan inilah pelajaran penting bagi pemerintah, khususnya pejabat yang menangani kesehatan di negeri ini. Mungkinkah? Semoga saja.***

UK declared n’t the right, and the DJ, diclofenac gel dosage.